Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Desember 2012

“Belajar (Menjadi) Ideologis dari Film Lentera Merah”


“Belajar (Menjadi) Ideologis dari Film Lentera Merah”
Film Lentera Merah  mengambil tema sentral yang sedang digandrungi masyarakat kita, mistik. Namun bukan sembarang cerita mistik murahan seperti yang banyak diumbar oleh para produser pengejar rupiah yang kering pemaknaan dan sama sekali tidak mengedukasi publik. Film Lentera Merah hadir dengan mengais dan mencoba menyegarkan memori kita kembali akan banyak tragedi kemanusiaan di seputar historisme bangsa kita yang kini menginjak usia 67 tahun. Film ini mengisahkan lembaga pers mahasiswa Universitas Nasional Indonesia bernama ‘Lentera Merah’, pers mahasiswa ini dikenal sebagai pers mahasiswa legendaris yang senantiasa kritis dan radikal terhadap kebijakan kebijakan rezim Orde Baru, tak heran pers ini sempat mengalami pembredelan sebelum kemudian era reformasi membuka tabir kebebasan pers dan berpendapat.
Pers Lentera Merah memiliki slogan “Selalu Berpihak pada Kebenaran”, slogan yang teramat keramat dan sakti bagi siapapun yang mendengarnya. Bagi para punggawa Lentera Merah (LM) slogan “Selalu berpihak pada Kebenaran” memberi semacam kebanggaan dan tekad luar biasa untuk senantiasa mendobrak batas batas kemapanan dalam segala bentuk. Film ini diawali dengan romantika perekrutan terbuka LM bagi anggota anggota baru, LM sangat ketat dan kompetitif dalam menjaring calon anggotanya sehingga selain dengan penugasan kelompok LM mengadakan apa yang disebut sebagai “Malam Inisiasi” bagi calon calon anggota baru. Malam Inisiasi adalah tradisi turun temurun dalam soal perkaderan anggota baru di LM. Disinilah kisah itu dimulai, diceritakan Iqbal selaku Pimred LM menaksir seorang calon anggota baru bernama Risa, namun teman teman Iqbal merasa ada sesuatu yang janggal dengan penampilan Risa yang dingin dan kaku. Risa yang berpembawaan tenang dan dingin perlahan juga mulai menyadari keterancaman eksistensi dirinya dari kakak kakak angkatan nya di LM. Secara misterius satu persatu pengurus inti LM meninggal dengan cara yang janggal, dan puncaknya di malam inisiasi seluruh pengurus inti LM telah terbunuh secara misterius. Singkat cerita ternyata Risa adalah arwah penasaran dari masa lalu, Risa adalah pengurus inti LM angkatan 1965 yang dikenal kritis-radikal berhaluan ke kiri kirian. Pada saat Risa aktif di Lentera Merah, dia dituduh oleh Dewan Alumni LM sebagai antek PKI,sehingga dia harus disingkirkan.  Saat itu situasi bangsa tengah gonjang ganjing akibat terkena gempa politik peristiwa malam satu Oktober, seluruh elemen yang tercium berafiliasi dengan PKI menjadi pesakitan sejarah yang diburu untuk dihabisi dengan cara cara yang tak manusiawi. Risa akhirnya tewas secara mengenaskan akibat perlakuan Dewan Alumni, namun yang ironis teman teman sesama pengurus LM justru ketakutan dan menyembunyikan mayat Risa di sekretariat LM, menguburnya tanpa pernah memberi tahu siapapun. Bersama jasad Risa para pengurus Lentera Merah ikut serta mengubur kebenaran yang selama ini mereka perjuangkan.
Saya tidak akan terlalu membahas kronologi alur film di atas karena mungkin sudah banyak diketahui umum. Namun yang ingin saya sampaikan disini adalah betapa tragedi kemanusiaan dengan tajuk kekuasaan membungkam kebenaran telah  menjadi catatan hitam lembar sejarah bangsa kita. Betapa Risa menjadi potret kecil akan limbungnya suara kebenaran jika berhadapan dengan hegemoniknya rezim penguasa. Risa yang dikenal sebagai mahasiswa kritis-radikal yang banyak menyuarakan suara suara pembebasan membela kaum petani dan marginal, Risa dikenal sering menulis artikel artikel yang membongkar kebusukan tentara yang menghabisi petani petani didesanya justru dianggap sebagai parasit berbahaya yang dapat menularkan virus mematikan berlabel ‘komunsime’. Mengapa hanya memiliki pandangan pandangan Marxis Risa kemudian lantas ‘disingkirkan’ dari organisasi yang digelutinya, mengapa hanya karena membela nasib kaumnya (kaum tani) seseorang layak dihabisi nyawanya..? Saya membayangkan jika hidup di zaman itu, ada apa dengan komunisme..? apa salah saya menjadi seorang komunis..?.. Bukankah komunisme adalah fakta sejarah dalam lembar perjuangan bangsa kita, bukankah gerakan komunisme adalah gerakan yang paling progresif dalam perjuangan antikolonialisme dan antifeodalisme, dua paham yang telah mencengkeram bangsa kita selama ratusan tahun. Komunisme sebagai gerakan politik dan ideologi telah hadir sejak zaman pra kemerdekaan, bahkan komunisme lahir dari rahim organisasi Islam terbesar dan pertama di Indonesia, Serikat Islam. Maka menjadi tidak relevan mengasosiasikan komunisme identik dengan ateisme. Dahulu seorang pemuka agama terkemuka bernama Haji Misbach juga seorang komunis, namun dia tetap menjadi seorang theis (muslim) yang taat. Apalagi jika kita menelisik riwayat hidup Tan Malaka, siapa yang tak kenal Tan Malaka, revolusionis sejati dan bapak republik ini adalah mantan ketua Partai Komunis pertama di Hindia Belanda, namun dia berpendidikan agama yang kuat dan tetap menjadi theis, Tan terkenal dengan ucapannya bahwa “dihadapan Tuhan saya seorang Muslim, namun dihadapan manusia saya seorang komunis”. Sangat ironis jika di abad kemanusiaan dengan dengung dengung persamaan, kebebasan dan persaudaraan masih kita dapati kekerasan akibat perbedaan ideologi hidup, yang agamis menghina kubu liberalis, yang liberalis mengolok ngolok kaum konservatif, yang konservatif menghina kubu revolusioner dan seterusnya begitu, Bisakah kita hidup bersama sama dengan tanpa melihat isi kepala dan pikiran orang lain dan hanya menjadikan tindakan dan sikap sebagai tolak ukur kebaikan dan keburukan sesuatu. Biarkan ideologi terus tumbuh, berkembang, meluap luap dan meledak dalam pikiran pikiran manusia manusia merdeka itu, sebab hanya manusia terpenjara sajalah yang tak berani memelihara ideologi dalam kepalanya..
Refleksi setelah menonton film Lentera Merah, 23.03. 1 Februari 2012
Kota Tegal, Jawa Tengah
Pusat Radikalisme Jawa

Minggu Pagi di Victoria Park


Wacana Postkolonial dalam Film Minggu Pagi di Victoria Park
Studi studi postkolonial dalam diskursus akademik internasional sebagai sebuah bangunan pengetahuan (body of knowledge) sesungguhnya relatif belum lama dikembangkan oleh para pemikirnya. Apabila terbitnya karya Edward Said berjudul “Orientalisme” dan munculnya kelompok subaltern studies group di India pada tahun 1980 an dijadika pijakan ‘kelahiran’ studi studi postkolonial, maka usia nya baru sekitar 3 dasawarsa. Dalam usia yang masih sangat muda ini diskursus postkolonial banyak mendapat tentangan dan tantangan dari berbagai pihak. Namun studi postkolonial tetap menjadi kajian yang banyak menarik minat akademisi di negara negara dunia ketiga, terutama digunakan untuk membongkar struktur dan relasi kuasa yang dominatif-opresif selama dan sesudah kolonialisme membelenggu negara negara mereka.
Penggunaan terminologi ‘post’ dibandingkan dengan ‘pasca’ sesungguhnya syarat akan pemaknaan dan interpretasi yang kompleks akan konsekuensi konsekuensi nya, terminologi post mengandung makna melampaui “beyond”, dibandingkan dengan setelah ‘after’, postkolonialisme juga mengandung makna bahwa ada continuing effects yang ditinggalkan selama dan setelah kolonialisme bangsa bangsa barat atas bangsa timur. Postkolonialisme meruju pada kenyataan bahwa penguasaan bangsa bangsa barat atas negeri negeri jajahannya tidak hanya sebatas pada aspek fisik dan militer saja, namun lebih luas lagi dimensi dan spektrum penguasaannya, yakni pada aspek ideologi, politik, budaya, sastra bahkan agama sekalipun. Menurut Gramsci, penguasaan pada aspek fisik dilakukan secara langsung sarana militer disebut dominasi, sedangkan penguasaan secara sukarela yang dilakukan dengan ‘penaklukan’ ideologi, politik, agama dan budaya kelas tertindas disebut ‘hegemonig’. Negara negara kolonialis melakukan dominasi dan hegemoni secara bersamaan pada bangsa bangsa jajahannya, dengan begitu warisan kolonialisme pada tanah tanah jajahannya pun berada pada semua dimensi, termasuk struktur mental, budaya, agama hingga politik.
Studi studi postkolonial menekankan pada continuing effect kolonialisme pada masyarakat bekas jajahan. Sikap dan konstruksi berpikir masyarakat bekas jajahan terhadap barat (kolonial) dan terhadap konstruksi identitas dirinya. Masyarakat bekas jajahan seringkali mengkonstruksi barat sebagai negeri kolonialis, penindas dan simbol kejahatan kemanusiaan dan moralitas, namun disisi lain mereka juga diam diam ‘memuja’ barat sebagai simbol kemajuan, kemodernan, dan sebagai arah pembangunan bangsa mereka. Sedangkan masyarakat negeri kolonialis mengkonstruksikan timur sebagai simbol keterbelakangan, kejumudan, tradisi dan anti rasionalitas, namun di sisi lain mereka juga memandang timur sebagai simbol eksotisme, ‘jauh’ dan unik sehingga harus ditaklukkan. Sikap yang demikian dalam studi postkolonial disebut sebagai sikap “Ambivalen”, di satu sisi mengutuk namun disisi lain ‘memuja’, relasi ini memendam semacam rasa benci tapi rindu.
Penjelasan akan ambivalensi (dengan segala konsep kunci seperti mimikri, hibriditas, representasi dll) dijelaskan oleh para teoritisi postkolonial seperti Hommy Babha, Franz Fannon, Bill Achroft dll. Menurut Babha mimikri adalah praktek dimana orang yang dijajah menulis kembali wacana kolonial yang dipaksakan kepada mereka, sehingga berbaur dengan wacana mereka sendiri. Dari sini sebenarnya identitas warga postkolonial adalah identitas yang hibrid dan pada dasarnya orang yang dikoloni sedang melakukan dekonstruksi terhadap wacana itu. Sedangkan Hibriditas dalam konteks postkolonial mengacu pada proses dimana orang-orang yang dikoloni berusaha menyingkap wacana postkolonial yang beraneka ragam. Selama ini wacana postkolonial selalu menganggap bahwa orang yang dikoloni adalah orang yang selalu meniru (mimikri) padahal sebenarnya mereka sedang mencampurkan wacana kolonial dengan ide mereka (hibrid).
Dalam menganalisis film Minggu Pagi di Victoria Park penulis akan banyak menggunakan konsep konsep kunci di atas. Film yang bernarasikan pergulatan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Hongkong ini sesungguhnya banyak menyimpan ‘rahasia’ postkolonial yang harus ‘dibongkar’ dengan konsep kunci ambivalensi. Seperti dikisahkan di atas keluarga Mayang dan Sekar sesungguhnya adalah representasi dari masyarakat terjajah (colonized) yang bergulat dengan struktur politik, ekonomi, dan budaya warisan kolonial. Salah satunya bisa kita potret dari sikap ayah Mayang yang memandang ‘luar negeri’ sebagai ‘tanah harapan’ bagi keberlangsungan keluarganya, luar negeri dianggap mampu mengangkat harkat dan martabat keluarga karena sokongan ekonomi nya. Pandangan demikianlah yang ‘memaksa’ Sekar untuk pergi meninggalkan tanah air menuju negeri asing dengan harapan akan kehidupan yang lebih baik. Struktur mental yang demikian sesungguhnya adalah warisan mental inlander masyarakat terjajah yang selalu menganggap pihak lain (barat/eksternal) memiliki superisositas dan menganggap dirinya inferior.
Dalam film ‘Minggu Pagi di Victoria” juga dapat kita temukan kompleksitas persoalan kekerasan yang dihadapi buruh migran kita. Kekerasan yang dialami tidak berhenti pada kekerasan fisik semata, namun juga kekerasan psikologis, simbolik dan budaya. Kekerasan juga tidak hanya dilakukan oleh masyarakat negeri tujuan sebagai kelas penindas (majikan) namun juga dilakukan oleh masyarakat dalam kelas tertindas (keluarga korban). Dalam kajian postkolonial ini disebut ambivalensi, dimana pihak tertindas secara tidak sadar juga melakukan apa yang mereka sendiri kecam, yakni penindasan. Contoh dalam film ini adalah apa yang dialami Mayang dan Sekar dalam sebuah keluarga kecil di pelosok Jawa. Digambarkan bahwa Sekar yang mempunyai kecantikan dan kecerdasan di atas rata rata gadis desa dijadikan ‘alat’ oleh keluarganya untuk memperbaiki kehidupan ekonomi mereka, dengan menjadi TKW di negeri orang keluarga Sekar mendapat perbaikan kehidupan. Sementara kekerasan psikis dialami oleh Mayang, Mayang yang secara secara fisik tidak serupawan adiknya harus menjalani masa masa suram dalam keluarganya, dia diremehkan dan selalu dibanding bandingkan dengan Sekar hanya karena dia tidak bisa pergi ke luar negeri menjadi TKW, sementara pekerjaannya sebagai buruh di pabrik tebu tidak pernah dihargai oleh ayahnya. Akibatnya Mayang tanpa sadar memupuk perasaan dendam dan iri terhadap saudaranya sendiri.
Film ini juga menyajikan potret menarik kehidupan para pahlawan devisa di negeri asing. Lika liku kehidupan keseharian buruh migran di negeri asing ini dapat kita ‘baca’ dengan perspektif poskolonial. Menarik misalnya melihat bagaimana para Tenaga Kerja Wanita di Hongkong dalam film itu digambarkan memiliki komunitas dan tempat nongkrong tersendiri di salah satu pusat kota, mereka biasa saling bertemu dan berbagi keluh kesah tentang pekerjaan, keluaga majikannya, hingga pacar mereka. Salah satu yang menarik adalah perubahan gaya hidup dan selera konsumsi mereka selama di negeri asing.
Dalam film ini digambarkan bagaimana para buruh migran perempuan ini mulai menjadi ‘manusia modern’, minimal dari penampilan fisik mereka. Mereka mengenakan celana jins, tank top dan rompi, sementara sebagian yang lain banyak yang mengecat rambut mereka, memasang anting di mulut dan merokok menjadi kebiasaan. Perilaku mereka dalam meniru gaya hidup, mode pakaian dan selera konsumsi masyarakat negara maju hakikatnya sedang mengidentifikasikan identitas baru mereka sebagai ‘manusia modern’ dan mencoba membunuh identitas lama mereka sebagai ‘warga kelas dua’ di negeri asing. Namun dalam proses meniru ini terdapat sebuah ambivalensi seperti layaknya konsep mimikri nya Hommy Babha, proses meniru menurut Babha tidak hanya bersifat melanggengkan dominasi namun di saat yang bersamaan juga berusaha menegasikan dominasi tersebut. Artinya meniru juga mengandung makna mengejek dan mendifferensiasikan dirinya dengan yang ditiru. Dalam konteks perilaku para buruh migran wanita di film Minggu Pagi di Victoria Park dapat dikategorikan sebagai perilaku mimikri, mereka meniru dan berusaha mengidentifikasikan diri sesuai citra manusia modern dengan mengikuti gaya berpakaian, gaya hidup, dan penampilan fisik yang lain, namun perilaku mereka justru masih mempertahankan karakter karakter tradisional mereka, seperti suka bergosip dan mengobrol sesama migran, dan masih suka menggunakan kata kata kasar dari negara asal, seperti terlihat dari salah satu adegan saat Sekar bertengkar dengan temannya dan diakhir percakapan Sekar mengumpat temannya dengan sebutan “Jancuk”, sebuah umpatan khas Jawa Timuran. Proses proses di atas menunjukan bahwa meski mereka telah merombak total penampilan dan gaya hidup mereka hingga identik dengan apay yang mereka sebut citra manusia modern, namun hakikatnya struktur mental dan kesadaran mereka masih berada dalam bayangan identitas tradisional dan sebagai masyarakat terjajah (colonized) yang mudah mengimitasi apapun dari bangsa penjajah (colonizer). Dalam konteks ini sesungguhnya mereka tidak hanya meniru (imitasi) namun juga ada unsur mengejek (mockey), tidak hanya melanggengkan dominasi budaya namun juga berusaha menegasikan dominasi kultural itu. Akibatnya konstruksi identitas buruh migran pada film ini adalah perpaduan antara citra modernitas penampilan dan tradisionalitas sikap, sebuah identitas hibrid. 

Senin, 24 Desember 2012

Muslim Tanpa Masjid


Judul               : Muslim Tanpa Masjid : Esai Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam bingkai
                          Struktural Transedental
Penulis             : Kuntowijoyo
Penerbit           : Mizan
Tahun Terbit    : 2001
Tebal               : 404 Halaman
Buku ini merupakan kumpulan esai esai Kuntowijoyo yang tersebar dalam berbagai makalah ilmiahnya selama periode 1990 hingga awal 2000an. Bunga rampai ini merangkum pemikiran pemikiran Guru Besar Sejarah UGM ini tentang agama khususnya umat Islam, kebudayaan, hingga persoalan politik. Esai esai dalam buku ini juga menjadi semacam jawaban ilmiah sekaligus sikap begawan ilmu sosial profetik ini dalam merespon sejumlah fenomena sosial, politik hingga budaya yang dialami bangsa ini. Esai esai ini merupakan bentuk pertanggungjawaban Kunto terhadap mahkamah sejarah atas ilmu dan kebijaksanaan yang dia miliki.
Judul buku ini sendiri diambil dari salah satu esai dalam buku ini berjudul “Muslim Tanpa Masjid”. Judul ini menggambarkan terjadinya fenomena sosial, budaya bahkan politik yang dialami oleh umat Islam Indonesia. Fenomena ini adalah kelahiran generasi muslim baru di penghujung tahun 1990an, Kunto menggambarkan generasi muslim baru ini dengan menulis “Generasi muslim baru telah lahir dari rahim sejarah, tanpa kehadiran sang ayah, tidak ditunggui oleh saudara saudaranya. Kelahirannya bahkan tidak terdengar oleh muslim yang lain. Tangisnya kalah oleh teriakan teriakan reformasi”. Begitulah Kunto membuat metafora tentang kelahiran sebuah generasi muslim baru di kala reformasi pecah di tahun 1998. Apa yang dimaksud Kunto sebagai “generasi muslim baru” adalah mereka para mahasiswa yang pada tanggal 21 Mei 1998 berhasil menduduki gedung MPR-DPR. Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang berdemo melawan digelarnya Sidang Istimewa untuk mengevaluasi Habibie, mereka jualah yang dengan demonstrasi demonstrasi besarnya menentang kepemimpinan Habibie. Mereka ternyata ‘muslim’ juga, namun mereka menentang Habibie yang notabene tokoh Islam paling bersinar, mereka menentang keputusan Kongres Umat Islam (KUI) yang mendukung SI, mereka telah ‘melanggar’ berbagai konsensus umat dan ‘melawan’ tokoh tokoh Islam. Siapakah sebenarnya mereka..? dari konteks sosial budaya seperti apa mereka dibesarkan..? dan mengapa mereka bisa menjadi generasi baru yang tidak memiliki afiliasi lagi dengan umat..? Pertanyaan pertanyaan inilah yang dijawab Kunto secara komprehensif.
Kuntowijoyo menjelaskan bahwa kelahiran generasi baru muslim ini adalah sebuah gejala perkotaan. Tumbuh suburnya kelas menengah (middle class) di Indonesia semenjak tahun 70-80an mengakibatkan sejumlah implikasi sosial, generasi yang lahir pada periode ini adalah mereka anak anak umat yang tidak at home lagi di tenda tenda besar umat Islam macam Organisasi Kemasyarakatan (Muhammadiyah dan NU), dan lembaga agama tradisional lain. Tempat lahir mereka adalah di kota kota besar dan menengah, macam Jakarta, Bandung, Medan, Yogyakarta, Semarang dan Surabaya. Akibat industrialiasasi dan urbanisasi mereka tercerabut dari akar sosial budayanya, mereka tidak pernah mengalami sosialisasi keagamaan melalui institusi Islam tradisional macam madrasah, pesantren maupun ulama ulama, sebaliknya mereka justru lebih banyak mendapat sosialisasi agama melalui sekolah lewat Rohani Islamnya, melalui peer groupnya hingga sumber sumber anonim lainnya seperti buku, internet, kaset, video dan lain lain.
Singkatnya, generasi yang ‘hilang’ dari binaan umat inilah yang akhirnya tampil menjadi gerakan gerakan mahasiswa yang independen dari pengaruh ummat Islam, mereka tersebar di berbagai gerakan kiri radikal semacam Forkot, SMID, LMND hingga membentuk NGO NGO yang concern terhadap perjuangan kaum lemah dan tertindas. Mereka Meninggalkan lembaga lembaga sosial umat, bagi mereka ormas maupun orpol Islam tidaklah menarik lagi. Mereka adalah muslim tanpa masjid.
Selain ‘esai utama’ Muslim Tanpa Masjid dalam buku ini masih ada juga sekitar 35 esai percikan pemikiran Kunto. Tiga puluh lima esai Kunto ini terbagi menjadi tiga kluster, yakni esai agama, esai budaya dan terakhir esai politik. Pada kluster esai agama Kunto banyak menjelaskan tentang problematika yang sedang dan akan dihadapi umat Islam Indonesia. Kunto merefleksikan sekaligus membuat proyeksi akan masa depan umat Islam berdasarkan pengalaman pengalaman sejarah, misalnya esai berjudul “SI Putih, SI Merah dan Pembaruan Pemikiran Islam” Kunto menjelaskan bahwa berkaca dari ‘kegagalan’ SI membaca semangat zaman di tahun 1920an dan akhirnya ‘dikalahkan’ oleh PKI, umat Islam di abad 21 akan menghadapi tantangan pemikiran yang serupa dan harus dijawab dengan rumusan pergerakan yang inklusif, Kunto mencontohkan bahwa SI gagal mendekati kaum buruh dan tani disebabkan kegagalan rumusan “Sosialisme Islam” versi Cokroaminoto, rumusan Marxisme nampak lebih meyakinkan dan memikat bagi kalangan buruh tani. Nah, di abad 21 kegagalan SI jangan sampai terulang kembali. Gerakan Islam harus mampu mendekat ke kelompok kelompok sosial yang termarginalkan oleh pembangunan.
Sedangkan dalam kluster esai politik Kunto menyoroti kekalahan demi kekalahan politik umat Islam. Kunto menyebutkan bahwa umat terlalu terperdaya oleh perjuangan perjuangan politik yang melelahkan namun tanpa hasil yang signifikan. Sebagai contoh untuk menyebut kegagalan perjuangan politik umat seperti peristiwa DI/TII, kegagalan perjuangan parlementer Masyumi, kegagalan 1998 dan masih banyak lagi. Kunto mengajukan rumus untuk ‘meninggalkan’ gelanggang politik praktis yang serba berorientasi pendek dan pragmatis, Kunto mewanti wanti agar putera puteri terbaik umat tidak diarahkan ke politik semua. Kunto menganjurkan agar putera terbaik umat mengisi ruang ruang pembangunan seperti teknologi, riset, profesional hingga ranah kebudayaan. Menurut Kunto hal inilah yang akan memajukan umat. Di akhir bagian Kunto membangun paradigma ilmu ilmu sosial yang berwatak kenabian (profetik). Meski singkat, uraian Kunto tentang gagasan ilmu sosial profetik cukup memberikan basis epistemologis bagi bangunan paradigma yang terbilang baru dalam dunia akademis ini. Dengan pendekatan sosiologi sejarah, dipandu cita transedental analisa Kunto sangat jernih dan tajam, buku ini menjadi referensi wajib bagi mereka yang ingin memajukan umat Islam Indonesia.

Dari Pojok Sejarah


Judul               : Dari Pojok Sejarah : Renungan
                          Perjalanan Emha Ainun Najib
Penulis             : Emha Ainun Najib
Tahun Terbit    : 1991
Halaman          : 281 Halaman
Penerbit           : Penerbit Mizan
Tuhan yang mripat Mu tajam tak terkira
Antarkan kami berangkat menjadi manusia
Bukan seniman, politisi, hakim atau pengusaha
(Emha Ainun Najib, 10 Maret 1985)
Sekilas Emha Ainun Najib dan Karyanya
Emha Ainun Najib adalah makhluk langka di Indonesia. Salah satu cendekiawan yang dari awal karirnya hingga kini terus menunjukan salah satu yang langka di negeri ini, konsistensi. Konsistensi adalah mutiara di negeri ini, dan Emha adalah pemilik mutiara itu. Emha mampu menyatukan kata dan laku, ucapan dan perbuatannya tidak pecah kongsi. Emha senantiasa konsisten memilih berjuang dari ‘pojok sejarah’, dia memilih untuk menjauh dari segala pusat kekuasaan, pusat perhatian, magnet popularitas dan teguh membersamai rakyat yang dia perjuangkan. Prinsip hidup ini begitu terlihat ketika Emha memilih untuk berjuang dari arus bawah dan meninggalkan glamornya panggung nasional saat Orde Baru runtuh, padahal di zaman Orde Baru, Emha adalah sedikit dari cendekiawan yang sangat vokal dalam melakukan perlawanan terhadap rezim kala itu. Perjuangan advokasi nya untuk masyarakat Kedung Ombo kala itu misalkan, dianggap begitu berani karena tak ada satupun tokoh nasional yang berani membuka pelanggaran HAM berat yang dilakukan rezim saat itu. Bagi Emha pilihan untuk terus berjuang membersamai rakyat adalah pekerjaan yang berat dan tidak banyak dilakukan oleh para pemimpin negeri ini, untuk itulah dia memilih untuk mengisi ruang kosong itu agar rakyat tidak kesepian.
Lahir dan dibesarkan di kota santri Jombang Emha telah akrab dengan tradisi dan kebudayaan Islam di pesantren. Meski banyak disebut sebagai cendekiawan Islam, Emha tak segan memberontak kepada siapa saja yang ia anggap menindas. Sejak masa remaja Emha telah menunjukan watak ‘pemberontak’ nya, saat masih nyantri di Pondok Pesantren Modern Gontor, Emha memimpin aksi demonstrasi memprotes sistem pendidikan yang diterapkan yayasan, atas aksi ini Emha dipaksa angkat koper lebih dahulu dari masa studinya. Tak sampai disitu, ketika menempuh studi di SMA Muhammadiyah 1 di Yogyakarta Emha kembali ‘dipercepat’ paksa masa studinya oleh gurunya. Namun meski begitu, otak cemerlang Emha nyatanya berhasil membawanya diterima di Fakultas Ekonomi UGM, sekali lagi Tuhan seolah menakdirkan Emha untuk belajar langsung dari kehidupan, ayahnya meninggal dan keluarganya tak cukup uang untuk membiayai pendidikannya. Emha memutuskan keluar dari UGM dan belajar sastra kepada beberapa seniman di Yogyakarta, sambil belajar sastra Emha rajin menulis di media massa untuk sekedar menyambung hidup dan sesekali dikirimkan ke keluarganya.
Setelah keluar dari UGM Emha hidup menggelandang di Jalan Malioboro Yogyakarta, lima tahun Emha hidup di jalanan Malioboro, Yogyakarta antara 1970-1975 Emha belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha. Setelah itu bakat kesusastraan Emha mencuat, dia beberapa kali mengikuti forum forum kesenian internasional, seperti  lokakarya teater di Filipina (1980),International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Emha tercatat sebagai salah satu seniman-cendekiawan muslim paling produktif, lebih dari 30 buku dia hasilkan, diantara karya yang fenomenal adalah  Dari Pojok Sejarah (1985), Markesot Bertutur (1993), Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994), Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996), Demokrasi La Raiba Fiih (2010).  Selain buku, Emha juga berkecimpung di dunia teater, karya teater nya yang amat legendaris berjudul “Lautan Jilbab” ditulis dari puisi puisinya. Kini Emha aktif membersamai rakyat dengan jamaah Padang Bulan dan Maiyahnya yang digelar setiap bulan di beberapa kota.
Dari Pojok Sejarah : Suara Terpinggirkan untuk Negeri
Buku “Dari Pojok Sejarah” adalah kumpulan catatan catatan refleksi Emha mengenai kondisi kebangsaan kontemporer kala itu, catatan ini lebih mirip surat surat terbuka Emha untuk seorang sahabat imajinernya, yang dari awal ia sebut dengan sapaan “dil”. Meski lebih mirip sebuah surat yang ditulis untuk sahabatnya, catatan Emha ini tetap tidak kehilangan karakternya, bahasanya yang lugas, apa adanya, blak blakan, refleksif, kritis dan agak ‘nakal’ serta kental dengan tradisi kepesantrenannya mewarnai kata demi kata yang dirangkai.
Buku ini terdiri atas dua belas bagian, masing masing bagian terdiri atas kurang lebih sepuluh artikel. Catatan catatan Emha ini membahas mulai dari persoalan politik, kebudayaan, ekonomi, sosial, pesantren, agama, hingga sepak bola. Kebanyakan catatan ini adalah semacam kegalauan Emha terhadap kondisi bangsanya yang kian jauh dari cita cita bersama, entah itu cita cita republik apalagi cita cita kemanusiaan. Saat itu rezim Orde Baru sedang mengalami ‘top perform’ dalam merepresi segala infrastruktur kehidupan masyarakat, penindasan demi penindasan dilakukan rezim atas nama pembangunan, Pancasila dimitoskan dan dijadikan legitimasi politik semata, sementara rakyat kecil justru semakin menderita akibat hak hak nya dirampok negara. Apalagi Emha saat itu sedang berada di Eropa untuk mengikuti sejumlah forum forum kebudayaan internasional, kondisi bangsa bangsa Eropa yang menjamin HAM, melindungi rakyatnya, sejahtera dan menjamin kebebasan membuat Emha berpikir ulang tentang kondisi negaranya nun jauh disana yang masih di cengkeram hegemoni penguasa tiran. Catatan catatan reflektif Emha ini boleh jadi merupakan salah satu kritik paling tajam yang dilontarkan kaum cendekiawan saat itu, namun berkat kecerdikan gaya bahasa Emha yang penuh metafor tulisan ini berhasil lulus sensor pemerintah.
Dalam salah satu catatannya yang berjudul “Modernisasi Karbitan” misalnya, Emha dengan sangat baik melakukan kritik sosial yang tajam mengenai proses proses modernisasi yang dijalankan pemerintah, terutama yang disokong oleh institusi institusi pendidikan. Menurut Emha bangsa kita telah melakukan ‘lompatan sejarah’ yang sangat jauh untuk memenuhi tuntutan modernitas, padahal bangsa kita belum siap dan terlebih dahulu seharusnya melakukan penyesuaian penyesuaian di dalam kehidupan masyakatnya. Bahkan Emha menyebut kondisi bangsa saat itu tidak lebih dari pelestarian terhadap relasi struktur penjajah-dijajah dalam suatu bentuk yang lebih santun.
Secara umum, catatan catatan Emha dalam buku ini menggunakan bahasa yang lugas, to the point, dan dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat kita. Latar belakangnya yang berasal dari kelas sosial bawah dan pengalamannya hidup dijalanan membuat tulisan tulisan Emha benar benar hidup dalam realitas kehidupan masyarakat, tidak ada jarak antara penulis dengan pembaca. Emha menempatkan dirinya seperti seorang sahabat karib yang sedang berceloteh tentang kegusaran hatinya, kadang kadang agak sarkastik, kadang bercanda, kadang berbagi ironi namun kadang kadang justru saling memotivasi sesama kaum pinggiran. Namun pada beberapa bagian tulisan Emha kadang nampak berputar putar dengan metaforanya, saya menduga Emha sengaja memakai strategi menggunakan banyak metafor dan kisah kisah banyolan pesantrennya untuk menghindari sensor rezim saat itu, kritik kritik pedas yang dibalut dengan metafor dan kisah kisah kadang kurang dapat dimengerti namun sesungguhnya jika dicermati lebih dalam maknanya akan terungkap, disinilah kecerdikan Emha sekali lagi yang mampu ‘mengakali’ zaman sambil tetap teguh berpegang pada kebenaran yang dia yakini, kebenaran yang lahir dari lorong lorong zaman, kebenaran yang datang dari suara suara kaum pinggiran, suara dari pojok sejarah.