Senin, 24 Desember 2012

Dari Pojok Sejarah


Judul               : Dari Pojok Sejarah : Renungan
                          Perjalanan Emha Ainun Najib
Penulis             : Emha Ainun Najib
Tahun Terbit    : 1991
Halaman          : 281 Halaman
Penerbit           : Penerbit Mizan
Tuhan yang mripat Mu tajam tak terkira
Antarkan kami berangkat menjadi manusia
Bukan seniman, politisi, hakim atau pengusaha
(Emha Ainun Najib, 10 Maret 1985)
Sekilas Emha Ainun Najib dan Karyanya
Emha Ainun Najib adalah makhluk langka di Indonesia. Salah satu cendekiawan yang dari awal karirnya hingga kini terus menunjukan salah satu yang langka di negeri ini, konsistensi. Konsistensi adalah mutiara di negeri ini, dan Emha adalah pemilik mutiara itu. Emha mampu menyatukan kata dan laku, ucapan dan perbuatannya tidak pecah kongsi. Emha senantiasa konsisten memilih berjuang dari ‘pojok sejarah’, dia memilih untuk menjauh dari segala pusat kekuasaan, pusat perhatian, magnet popularitas dan teguh membersamai rakyat yang dia perjuangkan. Prinsip hidup ini begitu terlihat ketika Emha memilih untuk berjuang dari arus bawah dan meninggalkan glamornya panggung nasional saat Orde Baru runtuh, padahal di zaman Orde Baru, Emha adalah sedikit dari cendekiawan yang sangat vokal dalam melakukan perlawanan terhadap rezim kala itu. Perjuangan advokasi nya untuk masyarakat Kedung Ombo kala itu misalkan, dianggap begitu berani karena tak ada satupun tokoh nasional yang berani membuka pelanggaran HAM berat yang dilakukan rezim saat itu. Bagi Emha pilihan untuk terus berjuang membersamai rakyat adalah pekerjaan yang berat dan tidak banyak dilakukan oleh para pemimpin negeri ini, untuk itulah dia memilih untuk mengisi ruang kosong itu agar rakyat tidak kesepian.
Lahir dan dibesarkan di kota santri Jombang Emha telah akrab dengan tradisi dan kebudayaan Islam di pesantren. Meski banyak disebut sebagai cendekiawan Islam, Emha tak segan memberontak kepada siapa saja yang ia anggap menindas. Sejak masa remaja Emha telah menunjukan watak ‘pemberontak’ nya, saat masih nyantri di Pondok Pesantren Modern Gontor, Emha memimpin aksi demonstrasi memprotes sistem pendidikan yang diterapkan yayasan, atas aksi ini Emha dipaksa angkat koper lebih dahulu dari masa studinya. Tak sampai disitu, ketika menempuh studi di SMA Muhammadiyah 1 di Yogyakarta Emha kembali ‘dipercepat’ paksa masa studinya oleh gurunya. Namun meski begitu, otak cemerlang Emha nyatanya berhasil membawanya diterima di Fakultas Ekonomi UGM, sekali lagi Tuhan seolah menakdirkan Emha untuk belajar langsung dari kehidupan, ayahnya meninggal dan keluarganya tak cukup uang untuk membiayai pendidikannya. Emha memutuskan keluar dari UGM dan belajar sastra kepada beberapa seniman di Yogyakarta, sambil belajar sastra Emha rajin menulis di media massa untuk sekedar menyambung hidup dan sesekali dikirimkan ke keluarganya.
Setelah keluar dari UGM Emha hidup menggelandang di Jalan Malioboro Yogyakarta, lima tahun Emha hidup di jalanan Malioboro, Yogyakarta antara 1970-1975 Emha belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha. Setelah itu bakat kesusastraan Emha mencuat, dia beberapa kali mengikuti forum forum kesenian internasional, seperti  lokakarya teater di Filipina (1980),International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984) dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Emha tercatat sebagai salah satu seniman-cendekiawan muslim paling produktif, lebih dari 30 buku dia hasilkan, diantara karya yang fenomenal adalah  Dari Pojok Sejarah (1985), Markesot Bertutur (1993), Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994), Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996), Demokrasi La Raiba Fiih (2010).  Selain buku, Emha juga berkecimpung di dunia teater, karya teater nya yang amat legendaris berjudul “Lautan Jilbab” ditulis dari puisi puisinya. Kini Emha aktif membersamai rakyat dengan jamaah Padang Bulan dan Maiyahnya yang digelar setiap bulan di beberapa kota.
Dari Pojok Sejarah : Suara Terpinggirkan untuk Negeri
Buku “Dari Pojok Sejarah” adalah kumpulan catatan catatan refleksi Emha mengenai kondisi kebangsaan kontemporer kala itu, catatan ini lebih mirip surat surat terbuka Emha untuk seorang sahabat imajinernya, yang dari awal ia sebut dengan sapaan “dil”. Meski lebih mirip sebuah surat yang ditulis untuk sahabatnya, catatan Emha ini tetap tidak kehilangan karakternya, bahasanya yang lugas, apa adanya, blak blakan, refleksif, kritis dan agak ‘nakal’ serta kental dengan tradisi kepesantrenannya mewarnai kata demi kata yang dirangkai.
Buku ini terdiri atas dua belas bagian, masing masing bagian terdiri atas kurang lebih sepuluh artikel. Catatan catatan Emha ini membahas mulai dari persoalan politik, kebudayaan, ekonomi, sosial, pesantren, agama, hingga sepak bola. Kebanyakan catatan ini adalah semacam kegalauan Emha terhadap kondisi bangsanya yang kian jauh dari cita cita bersama, entah itu cita cita republik apalagi cita cita kemanusiaan. Saat itu rezim Orde Baru sedang mengalami ‘top perform’ dalam merepresi segala infrastruktur kehidupan masyarakat, penindasan demi penindasan dilakukan rezim atas nama pembangunan, Pancasila dimitoskan dan dijadikan legitimasi politik semata, sementara rakyat kecil justru semakin menderita akibat hak hak nya dirampok negara. Apalagi Emha saat itu sedang berada di Eropa untuk mengikuti sejumlah forum forum kebudayaan internasional, kondisi bangsa bangsa Eropa yang menjamin HAM, melindungi rakyatnya, sejahtera dan menjamin kebebasan membuat Emha berpikir ulang tentang kondisi negaranya nun jauh disana yang masih di cengkeram hegemoni penguasa tiran. Catatan catatan reflektif Emha ini boleh jadi merupakan salah satu kritik paling tajam yang dilontarkan kaum cendekiawan saat itu, namun berkat kecerdikan gaya bahasa Emha yang penuh metafor tulisan ini berhasil lulus sensor pemerintah.
Dalam salah satu catatannya yang berjudul “Modernisasi Karbitan” misalnya, Emha dengan sangat baik melakukan kritik sosial yang tajam mengenai proses proses modernisasi yang dijalankan pemerintah, terutama yang disokong oleh institusi institusi pendidikan. Menurut Emha bangsa kita telah melakukan ‘lompatan sejarah’ yang sangat jauh untuk memenuhi tuntutan modernitas, padahal bangsa kita belum siap dan terlebih dahulu seharusnya melakukan penyesuaian penyesuaian di dalam kehidupan masyakatnya. Bahkan Emha menyebut kondisi bangsa saat itu tidak lebih dari pelestarian terhadap relasi struktur penjajah-dijajah dalam suatu bentuk yang lebih santun.
Secara umum, catatan catatan Emha dalam buku ini menggunakan bahasa yang lugas, to the point, dan dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat kita. Latar belakangnya yang berasal dari kelas sosial bawah dan pengalamannya hidup dijalanan membuat tulisan tulisan Emha benar benar hidup dalam realitas kehidupan masyarakat, tidak ada jarak antara penulis dengan pembaca. Emha menempatkan dirinya seperti seorang sahabat karib yang sedang berceloteh tentang kegusaran hatinya, kadang kadang agak sarkastik, kadang bercanda, kadang berbagi ironi namun kadang kadang justru saling memotivasi sesama kaum pinggiran. Namun pada beberapa bagian tulisan Emha kadang nampak berputar putar dengan metaforanya, saya menduga Emha sengaja memakai strategi menggunakan banyak metafor dan kisah kisah banyolan pesantrennya untuk menghindari sensor rezim saat itu, kritik kritik pedas yang dibalut dengan metafor dan kisah kisah kadang kurang dapat dimengerti namun sesungguhnya jika dicermati lebih dalam maknanya akan terungkap, disinilah kecerdikan Emha sekali lagi yang mampu ‘mengakali’ zaman sambil tetap teguh berpegang pada kebenaran yang dia yakini, kebenaran yang lahir dari lorong lorong zaman, kebenaran yang datang dari suara suara kaum pinggiran, suara dari pojok sejarah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar