Judul : Dari Pojok Sejarah :
Renungan
Perjalanan Emha Ainun
Najib
Penulis :
Emha Ainun Najib
Tahun Terbit :
1991
Halaman :
281 Halaman
Penerbit :
Penerbit Mizan
Tuhan yang mripat Mu tajam tak terkira
Antarkan kami berangkat menjadi manusia
Bukan seniman, politisi, hakim atau
pengusaha
(Emha Ainun Najib, 10 Maret 1985)
Sekilas Emha Ainun
Najib dan Karyanya
Emha
Ainun Najib adalah makhluk langka di Indonesia. Salah satu cendekiawan yang
dari awal karirnya hingga kini terus menunjukan salah satu yang langka di
negeri ini, konsistensi. Konsistensi adalah mutiara di negeri ini, dan Emha
adalah pemilik mutiara itu. Emha mampu menyatukan kata dan laku, ucapan dan
perbuatannya tidak pecah kongsi. Emha senantiasa konsisten memilih berjuang
dari ‘pojok sejarah’, dia memilih untuk menjauh dari segala pusat kekuasaan,
pusat perhatian, magnet popularitas dan teguh membersamai rakyat yang dia
perjuangkan. Prinsip hidup ini begitu terlihat ketika Emha memilih untuk
berjuang dari arus bawah dan meninggalkan glamornya panggung nasional saat Orde
Baru runtuh, padahal di zaman Orde Baru, Emha adalah sedikit dari cendekiawan
yang sangat vokal dalam melakukan perlawanan terhadap rezim kala itu.
Perjuangan advokasi nya untuk masyarakat Kedung Ombo kala itu misalkan,
dianggap begitu berani karena tak ada satupun tokoh nasional yang berani
membuka pelanggaran HAM berat yang dilakukan rezim saat itu. Bagi Emha pilihan
untuk terus berjuang membersamai rakyat adalah pekerjaan yang berat dan tidak
banyak dilakukan oleh para pemimpin negeri ini, untuk itulah dia memilih untuk
mengisi ruang kosong itu agar rakyat tidak kesepian.
Lahir
dan dibesarkan di kota santri Jombang Emha telah akrab dengan tradisi dan kebudayaan
Islam di pesantren. Meski banyak disebut sebagai cendekiawan Islam, Emha tak
segan memberontak kepada siapa saja yang ia anggap menindas. Sejak masa remaja
Emha telah menunjukan watak ‘pemberontak’ nya, saat masih nyantri di Pondok
Pesantren Modern Gontor, Emha memimpin aksi demonstrasi memprotes sistem
pendidikan yang diterapkan yayasan, atas aksi ini Emha dipaksa angkat koper
lebih dahulu dari masa studinya. Tak sampai disitu, ketika menempuh studi di
SMA Muhammadiyah 1 di Yogyakarta Emha kembali ‘dipercepat’ paksa masa studinya
oleh gurunya. Namun meski begitu, otak cemerlang Emha nyatanya berhasil
membawanya diterima di Fakultas Ekonomi UGM, sekali lagi Tuhan seolah
menakdirkan Emha untuk belajar langsung dari kehidupan, ayahnya meninggal dan
keluarganya tak cukup uang untuk membiayai pendidikannya. Emha memutuskan
keluar dari UGM dan belajar sastra kepada beberapa seniman di Yogyakarta,
sambil belajar sastra Emha rajin menulis di media massa untuk sekedar
menyambung hidup dan sesekali dikirimkan ke keluarganya.
Setelah
keluar dari UGM Emha hidup menggelandang di Jalan Malioboro Yogyakarta, lima tahun Emha hidup di
jalanan Malioboro, Yogyakarta antara 1970-1975 Emha belajar sastra kepada
guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang
hidupnya misterius dan sangat memengaruhi perjalanan Emha. Setelah itu bakat
kesusastraan Emha mencuat, dia beberapa kali mengikuti forum forum kesenian
internasional, seperti lokakarya teater di Filipina (1980),International
Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984), Festival Penyair
Internasional di Rotterdam, Belanda (1984)
dan Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985). Emha tercatat
sebagai salah satu seniman-cendekiawan muslim paling produktif, lebih dari 30
buku dia hasilkan, diantara karya yang fenomenal adalah Dari Pojok Sejarah (1985), Markesot
Bertutur (1993), Indonesia Bagian
Penting dari Desa Saya (1994), Surat
Kepada Kanjeng Nabi (1996), Demokrasi La Raiba Fiih (2010). Selain buku, Emha juga berkecimpung di dunia teater, karya teater
nya yang amat legendaris berjudul “Lautan Jilbab” ditulis dari puisi
puisinya. Kini Emha aktif membersamai rakyat dengan jamaah Padang Bulan dan
Maiyahnya yang digelar setiap bulan di beberapa kota.
Dari Pojok Sejarah : Suara Terpinggirkan untuk Negeri
Buku “Dari Pojok
Sejarah” adalah kumpulan catatan catatan refleksi Emha mengenai kondisi
kebangsaan kontemporer kala itu, catatan ini lebih mirip surat surat terbuka
Emha untuk seorang sahabat imajinernya, yang dari awal ia sebut dengan sapaan
“dil”. Meski lebih mirip sebuah surat yang ditulis untuk sahabatnya, catatan
Emha ini tetap tidak kehilangan karakternya, bahasanya yang lugas, apa adanya,
blak blakan, refleksif, kritis dan agak ‘nakal’ serta kental dengan tradisi
kepesantrenannya mewarnai kata demi kata yang dirangkai.
Buku
ini terdiri atas dua belas bagian, masing masing bagian terdiri atas kurang
lebih sepuluh artikel. Catatan catatan Emha ini membahas mulai dari persoalan
politik, kebudayaan, ekonomi, sosial, pesantren, agama, hingga sepak bola.
Kebanyakan catatan ini adalah semacam kegalauan Emha terhadap kondisi bangsanya
yang kian jauh dari cita cita bersama, entah itu cita cita republik apalagi
cita cita kemanusiaan. Saat itu rezim Orde Baru sedang mengalami ‘top perform’
dalam merepresi segala infrastruktur kehidupan masyarakat, penindasan demi
penindasan dilakukan rezim atas nama pembangunan, Pancasila dimitoskan dan
dijadikan legitimasi politik semata, sementara rakyat kecil justru semakin
menderita akibat hak hak nya dirampok negara. Apalagi Emha saat itu sedang berada
di Eropa untuk mengikuti sejumlah forum forum kebudayaan internasional, kondisi
bangsa bangsa Eropa yang menjamin HAM, melindungi rakyatnya, sejahtera dan
menjamin kebebasan membuat Emha berpikir ulang tentang kondisi negaranya nun
jauh disana yang masih di cengkeram hegemoni penguasa tiran. Catatan catatan
reflektif Emha ini boleh jadi merupakan salah satu kritik paling tajam yang
dilontarkan kaum cendekiawan saat itu, namun berkat kecerdikan gaya bahasa Emha
yang penuh metafor tulisan ini berhasil lulus sensor pemerintah.
Dalam salah satu
catatannya yang berjudul “Modernisasi Karbitan” misalnya, Emha dengan
sangat baik melakukan kritik sosial yang tajam mengenai proses proses
modernisasi yang dijalankan pemerintah, terutama yang disokong oleh institusi
institusi pendidikan. Menurut Emha bangsa kita telah melakukan ‘lompatan
sejarah’ yang sangat jauh untuk memenuhi tuntutan modernitas, padahal bangsa
kita belum siap dan terlebih dahulu seharusnya melakukan penyesuaian
penyesuaian di dalam kehidupan masyakatnya. Bahkan Emha menyebut kondisi bangsa
saat itu tidak lebih dari pelestarian terhadap relasi struktur penjajah-dijajah
dalam suatu bentuk yang lebih santun.
Secara
umum, catatan catatan Emha dalam buku ini menggunakan bahasa yang lugas, to
the point, dan dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat kita. Latar
belakangnya yang berasal dari kelas sosial bawah dan pengalamannya hidup
dijalanan membuat tulisan tulisan Emha benar benar hidup dalam realitas
kehidupan masyarakat, tidak ada jarak antara penulis dengan pembaca. Emha
menempatkan dirinya seperti seorang sahabat karib yang sedang berceloteh
tentang kegusaran hatinya, kadang kadang agak sarkastik, kadang bercanda,
kadang berbagi ironi namun kadang kadang justru saling memotivasi sesama kaum pinggiran.
Namun pada beberapa bagian tulisan Emha kadang nampak berputar putar dengan
metaforanya, saya menduga Emha sengaja memakai strategi menggunakan banyak
metafor dan kisah kisah banyolan pesantrennya untuk menghindari sensor rezim
saat itu, kritik kritik pedas yang dibalut dengan metafor dan kisah kisah
kadang kurang dapat dimengerti namun sesungguhnya jika dicermati lebih dalam
maknanya akan terungkap, disinilah kecerdikan Emha sekali lagi yang mampu
‘mengakali’ zaman sambil tetap teguh berpegang pada kebenaran yang dia yakini,
kebenaran yang lahir dari lorong lorong zaman, kebenaran yang datang dari suara
suara kaum pinggiran, suara dari pojok sejarah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar