Kebahagiaan tidak diukur dari seberapa banyak harta yang
kita miliki, namun seberapa banyak kita berbagi bersama orang lain..
Pagi ini nampak sederhana, sesederhana driku yang selalu
gagap menyambut realitas. Zaman memang tak bisa dilawan namun keyakinan harus
tetap diperjuangkan, begitu kata kata magis Rendra selalu terngingang dibenaku,
benarkan kita masih punya keyakinan..? benarkan kita yakin akan keyakinan kita
sendiri..? kalo memang iya, benarkah kita masih memperjuangkan keyakinan
kita..? entahlah.Yang jelas pagi ini aku ingin merajut kembali tenun tenun
kehidupan yang beberapa hari ini
terkoyak koyak oleh ruitinitas keseharian yang menjengkelkan, menjemukan dan
kadang menggerogoti kemanusiaan kita. Sudahlah, kali ini aku tak ingin terlalu
banyak berteriak ataupun menghantam kanan kiri. Namun aku ingin menghantam
diriku sendiri.
Pagi nampak sederhana. Sesederhana hidup ini, kata orang
bijak hidup hanya numpang lewat, mampir ngombe bahasanya Cak Nun, Maka jangan
pernah menjadikan dunia sebagai tujuan, jadikanlah dunia di genggamanku dna
akhirat di hatiku, begitu sabda Imam Ali RA, sayangnya masyarakat kita selalu
memahami nya dengan terbolak balik, dunia sekarang merasuk d hati manusia
manusia modern, sementara akhirat pun tidak ada di genggamannya. Manusia modern
terjebak pada jebakan dehumanisasi, manusia satu dimensi (one dimentional mans)
kata Herbert Marcuse, manusia terpecah (split) atau apapunlah namanya. Yang
jelas modernitas yang membawa kemajuan luar biasa di bidang teknologi
informasi, ekonomi dan pembangunan telah menimbulkan persoalan sosial yang maha
serius. Alienasi, anomie dan anarki dalam bentuk diam diam sedang melanda
masyarakat kita, masyarakat yang sakit.
Aku ingin menghindari jebakan modernitas dengan caraku
sendiri, dengan usahaku sendiri, dengan jalanku sendiri dari hasil pemikiranku.
Itu satu prinsip dalam hidupku. Sekarang aku kembali menatap hidup yang lebih
cerah ke depan, hari ini hari jumat, hari paling baik bagi ummat Islam. Aku
berharap dan berdoa Tuhan senantiasa membersamai kami, bukan hanya di masjid
masjid kami, bukan hanya di gereja gereja kami, bukan hanya di kelenteng
kelenteng kami, bukan hanya di sinagog sinagog kami, melainkan membersamai dan
hadir dalam pasar pasar kami, dalam gedung gedung korporasi kami, dalam gedung
gedung parlemen kami, dalam istana istana kekuasaan kami, dalam sekolah sekolah
kami dan lebih penting dari segalanya hadir dalam hati hati kami, untuk
senantiasa menuntun kepada jalan kasih sayang kepada sesama, barangsiapa
mencintai makhluk di bumi niscaya dia akan dicintai makhluk langit..
Sekian ,,,dalam cerahnya harapan
28 September 2012.
06.38 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar