Senin, 24 Desember 2012

Manusia dan Modernitas


Kebahagiaan tidak diukur dari seberapa banyak harta yang kita miliki, namun seberapa banyak kita berbagi bersama orang lain..
Pagi ini nampak sederhana, sesederhana driku yang selalu gagap menyambut realitas. Zaman memang tak bisa dilawan namun keyakinan harus tetap diperjuangkan, begitu kata kata magis Rendra selalu terngingang dibenaku, benarkan kita masih punya keyakinan..? benarkan kita yakin akan keyakinan kita sendiri..? kalo memang iya, benarkah kita masih memperjuangkan keyakinan kita..? entahlah.Yang jelas pagi ini aku ingin merajut kembali tenun tenun kehidupan yang  beberapa hari ini terkoyak koyak oleh ruitinitas keseharian yang menjengkelkan, menjemukan dan kadang menggerogoti kemanusiaan kita. Sudahlah, kali ini aku tak ingin terlalu banyak berteriak ataupun menghantam kanan kiri. Namun aku ingin menghantam diriku sendiri.
Pagi nampak sederhana. Sesederhana hidup ini, kata orang bijak hidup hanya numpang lewat, mampir ngombe bahasanya Cak Nun, Maka jangan pernah menjadikan dunia sebagai tujuan, jadikanlah dunia di genggamanku dna akhirat di hatiku, begitu sabda Imam Ali RA, sayangnya masyarakat kita selalu memahami nya dengan terbolak balik, dunia sekarang merasuk d hati manusia manusia modern, sementara akhirat pun tidak ada di genggamannya. Manusia modern terjebak pada jebakan dehumanisasi, manusia satu dimensi (one dimentional mans) kata Herbert Marcuse, manusia terpecah (split) atau apapunlah namanya. Yang jelas modernitas yang membawa kemajuan luar biasa di bidang teknologi informasi, ekonomi dan pembangunan telah menimbulkan persoalan sosial yang maha serius. Alienasi, anomie dan anarki dalam bentuk diam diam sedang melanda masyarakat kita, masyarakat yang sakit.
Aku ingin menghindari jebakan modernitas dengan caraku sendiri, dengan usahaku sendiri, dengan jalanku sendiri dari hasil pemikiranku. Itu satu prinsip dalam hidupku. Sekarang aku kembali menatap hidup yang lebih cerah ke depan, hari ini hari jumat, hari paling baik bagi ummat Islam. Aku berharap dan berdoa Tuhan senantiasa membersamai kami, bukan hanya di masjid masjid kami, bukan hanya di gereja gereja kami, bukan hanya di kelenteng kelenteng kami, bukan hanya di sinagog sinagog kami, melainkan membersamai dan hadir dalam pasar pasar kami, dalam gedung gedung korporasi kami, dalam gedung gedung parlemen kami, dalam istana istana kekuasaan kami, dalam sekolah sekolah kami dan lebih penting dari segalanya hadir dalam hati hati kami, untuk senantiasa menuntun kepada jalan kasih sayang kepada sesama, barangsiapa mencintai makhluk di bumi niscaya dia akan dicintai makhluk langit..
Sekian ,,,dalam cerahnya harapan
28 September 2012.
06.38 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar